Menjadi guru merupakan panggilan hati, bukan sekadar pekerjaan. Namun bagi banyak guru honorer di Bandung, panggilan itu berjalan beriringan dengan ketidakpastian yang berkepanjangan, baik dalam hal status maupun penghidupan.
Kepastian Yang Tak Kunjung Datang
Guru honorer bekerja tanpa status kepegawaian yang jelas. Meskipun menjalankan tugas mendidik, mereka sering kali tidak tahu sampai kapan kontrak akan diperpanjang. Setiap awal tahun ajaran atau setiap semester, mereka kembali berada dalam posisi menunggu:
Apakah kontrak akan diperpanjang tahun ini?
Bagaimana dengan status P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) yang dijanjikan?
Apakah ada peluang diangkat menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara)?
Ketiadaan kepastian ini bukan hanya persoalan administratif, itu berpengaruh langsung pada psikologis dan perencanaan hidup mereka sehari-hari. Kekhawatiran “akan bertahan sampai kapan?” menjadi bagian dari rutinitas batin yang tak kunjung padam.
Gaji Yang Tidak Memadai Untuk Hidup Layak
Data dan kesaksian dari lapangan berkali-kali menunjukkan bahwa gaji guru honorer jauh di bawah standar kebutuhan hidup layak, terutama di kota besar seperti Bandung. Dengan biaya hidup yang terus meningkat. Sewa tempat tinggal, transportasi, kebutuhan pokok, kesehatan, hingga pendidikan anak. Jumlah honor yang diterima sering kali tidak mencukupi. Beberapa realitas yang mereka hadapi antara lain meliputi :
Honor yang tidak tetap atau dibayar per jam/pelajaran, sehingga pendapatan berubah setiap bulan.
Tidak adanya tunjangan kesehatan, tunjangan keluarga, atau jaminan pensiun.
Belum termasuk beban kerja di luar jam mengajar seperti mempersiapkan materi, evaluasi siswa, dan kegiatan ekstra kurikuler yang juga tidak dibayar.
Dalam kondisi seperti ini, bertahan hidup bukan lagi soal memenuhi kebutuhan dasar, tetapi soal bertahan secara mental dan emosional.
Dua Dunia Dalam Satu Profesi
Guru honorer sering merasa berada di dua dunia sekaligus seperti :
Di depan kelas — mereka dianggap sama dengan guru tetap, bertanggung jawab penuh atas proses belajar siswa.
Di luar kelas — mereka diperlakukan berbeda dalam hak, upah, dan penghargaan.
Kesenjangan ini menimbulkan dilema:
Bagaimana menumbuhkan generasi penerus bangsa jika pendidiknya sendiri diperlakukan sebagai tenaga murah yang rentan?
Menunggu dengan Harapan Bukan Untuk Pasif, Tapi Bertahan
Menunggu kepastian bukan berarti pasif. Banyak guru honorer tetap bekerja keras, mengikuti pelatihan, mengambil tambahan pekerjaan, bahkan melanjutkan pendidikan agar layak mengikuti seleksi P3K atau peluang pengangkatan lain. Realitas ini tetap tidak adil. Guru honorer mendambakan sebagai :
Kepastian status kerja
Gaji layak setara upah minimum di Bandung
Fasilitas dan tunjangan yang setara dengan tugas mereka
Hak sosial dan perlindungan hukum
Dalam hidup guru honorer di Bandung mencerminkan ketidakseimbangan antara dedikasi dan apresiasi yang diterima. Mereka mendidik dengan sepenuh hati, namun hidup sehari-hari mereka penuh tantangan karena gaji yang tidak memadai dan masa depan yang tidak pasti. Menunggu kepastian bukan sekadar soal administrasi, itu soal martabat, pemenuhan hak, dan keadilan sosial. Menghapuskan ketidakpastian itu berarti menghormati profesi pendidikan itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar