Persaingan di dunia kerja global kian ketat. Di tengah laju perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), banyak pencari kerja berharap teknologi dapat mempermudah mereka mendapatkan pekerjaan. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya: penggunaan AI tidak selalu menjamin kemudahan memperoleh pekerjaan, bahkan sebagian masyarakat mulai mengalihkan fokusnya ke dunia lain, termasuk aplikasi kencan digital. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan di berbagai sektor memang semakin banyak memanfaatkan AI untuk proses rekrutmen, mulai dari penyaringan CV otomatis hingga wawancara berbasis algoritma. Namun sistem ini sering kali dinilai terlalu kaku dan tidak sepenuhnya mampu membaca potensi manusia secara utuh. Banyak pelamar merasa tersisih hanya karena CV mereka tidak sesuai kata kunci atau format yang diinginkan mesin.
“Sekarang bukan hanya bersaing dengan manusia, tapi juga harus lolos dari sistem AI terlebih dahulu,” ujar Dimas (27), seorang pencari kerja di Jakarta yang sudah melamar lebih dari 50 perusahaan dalam enam bulan terakhir tanpa panggilan wawancara. “Rasanya seperti bicara dengan tembok.” Kondisi ini menimbulkan tekanan psikologis yang cukup besar, terutama bagi generasi muda yang baru lulus dan berharap cepat mandiri secara finansial. Ketidakpastian ekonomi, pemutusan hubungan kerja (PHK), serta otomatisasi pekerjaan membuat rasa cemas terhadap masa depan semakin meningkat.
Menariknya, di tengah sulitnya dunia kerja, tren penggunaan aplikasi kencan justru meningkat. Bagi sebagian orang, aplikasi tersebut menjadi ruang pelarian dari stres mencari kerja, sekaligus tempat mencari dukungan emosional, pertemanan, atau bahkan peluang baru di luar jalur profesional formal. Psikolog sosial menjelaskan bahwa fenomena ini wajar terjadi. “Ketika individu mengalami tekanan berat dalam satu aspek kehidupan, mereka cenderung mencari penguatan emosional di aspek lain. Aplikasi kencan bukan hanya soal mencari pasangan, tapi juga tentang merasa diterima, didengar, dan dihargai,” ujarnya.
Namun para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak sepenuhnya menyerah pada keadaan. Adaptasi tetap diperlukan, baik dengan meningkatkan keterampilan baru, membangun jejaring profesional secara aktif, maupun memanfaatkan teknologi secara lebih strategis, bukan hanya sebagai alat melamar kerja, tetapi juga untuk belajar dan berkreasi. Pemerintah dan sektor swasta pun diharapkan dapat menciptakan sistem rekrutmen yang lebih manusiawi dan inklusif, serta membuka lebih banyak peluang kerja yang berkelanjutan. Tanpa itu, kesenjangan antara pencari kerja dan pasar kerja akan semakin melebar. Dunia kerja memang berubah, tantangan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu manusia, bukan penghalang. Di tengah segala kesulitan, keseimbangan antara karier, kesehatan mental, dan kehidupan sosial menjadi semakin penting untuk dijaga.
Komentar
Posting Komentar