Menjadi orang tua adalah salah satu perubahan paling signifikan dalam hidup seseorang. Selain membawa kebahagiaan, tanggung jawab baru ini juga dapat mengguncang cara seseorang memandang dirinya sendiri, bahkan sampai pada tingkat kehilangan jati diri (identity loss). Hal ini sudah dibuktikan oleh berbagai penelitian dan survey, termasuk yang menemukan bahwa hampir 49% orang tua merasa mereka kehilangan identitas diri sejak memiliki anak.Parents
Apa Kata Studi Dan Data?
Dari Survey Keseharian Orang Tua, Menurut survei terbaru mengungkapkan :
49% orang tua merasa kehilangan identitas pribadi setelah punya anak.
Banyak orang tua harus menolak peluang kerja, perubahan karier, atau mengurangi aktivitas sosial demi keluarga.
34% orang tua mengaku ambisi pribadi mereka menurun pascapunya anak mereka.Parents
Ahli psikologi menjelaskan bahwa ini bukan sekadar “pilihan”, melainkan dampak dari rutinitas harian yang sangat menuntut, kurangnya waktu untuk diri sendiri, dan perubahan prioritas hidup.Parents
Mengapa Hal Ini Terjadi?
Para peneliti dan psikolog melihat beberapa faktor utama seperti :
Perubahan Prioritas Dan Peran
Identitas kita biasanya terbentuk dari adanya :
Karier atau pendidikan,
Hubungan sosial,
Hobi,
Kebiasaan hidup.
Setelah menjadi orang tua, semua area tersebut sering tergeser oleh kebutuhan anak, sehingga banyak orang merasa dahului diri sendiri seperti :
Matrescence atau Transformasi Psikologis
Istilah matrescence digunakan untuk menggambarkan perubahan psikologis mendalam setelah menjadi orang tua, mirip dengan pubertas tetapi berlangsung ketika seseorang mengambil peran sebagai orang tua. Pergeseran ini mencakup bukan hanya tanggung jawab baru, tetapi juga perubahan cara melihat diri sendiri dan dunia. Sehingga siapa Anda sebelumnya tidak lagi terasa
Ekspektasi Sosial Dan Tekanan Lingkungan
Tekanan sosial terhadap peran orang tua, terutama ibu dapat membuat seseorang akan :
merasa harus selalu memberikan waktu penuh kepada anak,
merasa bersalah jika mengejar kehidupan pribadi,
atau merasa “kurang baik” sebagai orang tua bila memikirkan diri
Tekanan ini bukan sekadar perasaan tetapi kenyataan psikologis yang menekan identitas individu.
Dampak Pada Kesehatan Mental
Kehilangan identitas diri bukan sekadar masalah “merasakan berbeda”. Studi psikologis menunjukkan bahwa fenomena ini dapat berhubungan dengan adanya :
meningkatnya risiko depresi dan kecemasan,
kehilangan motivasi untuk tujuan pribadi,
isolasi sosial dan kelelahan emosional.
Walau bukan semua orang tua mengalami gangguan klinis, pengalaman ini bisa berdampak signifikan pada kesejahteraan emosi mereka.
Bagaimana Menyikapi Perubahan Identitas Ini?
Para ahli dan psikologi menyarankan beberapa hal seperti :
Akui bahwa perubahan identitas itu normal
Transisi menjadi orang tua merupakan salah satu fase kehidupan yang membutuhkan waktu.
Lakukan kembali hal hal yang dulu menyenangkan
Mengambil sedikit waktu untuk hobi, olahraga ringan, atau bertemu teman dapat membantu membangun kembali rasa diri.
Bangun dukungan sosial
Berbicara dengan teman, pasangan, atau kelompok dukungan orang tua bisa membantu meredakan rasa bersalah atau
Pertimbangkan bantuan profesional
Jika kehilangan jati diri disertai depresi, kecemasan berat, atau gangguan fungsi sehari-hari, berbicara dengan psikolog atau konselor bisa sangat membantu.
Kehilangan identitas diri setelah memiliki anak bukan sekadar kurang waktu untuk diri sendiri. Ini adalah transisi psikologis yang nyata, yang memengaruhi banyak orang tua secara emosional dan sosial. Sudah ada bukti ilmiah dan survei yang menunjukkan fenomena tersebut terjadi pada persentase besar orang tua. Yang penting merupakan mengenali dan memahami perubahan ini, serta mencari cara untuk menjaga keseimbangan antara peran sebagai orang tua dan identitas pribadi.
Komentar
Posting Komentar