Laut Cina Selatan kembali menjadi sorotan dunia setelah citra satelit terbaru memperlihatkan aktivitas reklamasi pulau yang intensif oleh beberapa negara yang mengklaim wilayah itu. Di tengah laut strategis yang dilintasi rute perdagangan utama dan kaya sumber daya laut, sejumlah proyek reklamasi pulau baru memperlihatkan dinamika kekuatan yang semakin kompleks.
China Perluas Jejaknya Di Laut Cina Selatan
Pada awal tahun ini citra satelit menunjukkan China mulai memperluas pembangunan di Antelope Reef, bagian dari Kepulauan Paracel yang dikendalikan Beijing namun diklaim juga oleh Vietnam dan Taiwan. Aktivitas ini mencakup pengerukan laut dan pengisian lahan untuk memperbesar area pulau yang tadinya merupakan terumbu karang rendah. Proyek ini bukan sesuatu yang tiba tiba dari sejak dekade lalu China telah membangun pulau buatan besar di Paracel dan Spratly, memasang landasan udara, fasilitas komunikasi, serta sistem radar militer, menjadikannya titik penting dalam strategi maritim Beijing. Aktivitas Antelope Reef berpotensi memperluas jaringan fasilitas tersebut, memperkuat kontrol strategis Beijing di jalur laut utama ini.
Vietnam Juga Menanggapi Dengan Reklamasin Laut Cina Selatan
Tak hanya China akan tetapi Vietnam ternyata mempercepat proyek reklamasi di wilayah sengketa yang diklaimnya di gugusan Spratly. Hanoi aktif memperluas pulau buatan di beberapa terumbu karang strategis termasuk South Reef, dengan tujuan memperkokoh klaim dan kehadiran fisiknya. Spatial. Menurut laporan analis, Vietnam hampir menyamai volume lahan buatan China di Spratly dan mungkin akan melampauinya bila tren ini berlanjut. Hal ini menunjukkan bahwa rivalitas di Laut Cina Selatan tidak hanya soal dominasi China, tetapi juga respons kekuatan regional yang berupaya mempertahankan klaim mereka sendiri. Bworld Online
Mengapa Ini Penting?
Aktivitas reklamasi pulau di Laut Cina Selatan membawa sejumlah implikasi geopolitik dan strategis meliputi :
Ketegangan Regional
Proyek reklamasi sering memicu protes diplomatik dan ketegangan antara negara klaim, termasuk dengan ASEAN dan negara barat seperti AS yang mendukung freedom of navigation (kebebasan navigasi).
Militerisasi
Banyak pulau baru kini dilengkapi fasilitas militer seperti landasan, radar, hingga pangkalan, yang memperluas kemampuan proyeksi kekuatan di kawasan.
Stabilitas Dan Hukum Laut
Sengketa yang tak kunjung tuntas membuat implementasi aturan internasional seperti UNCLOS (Konvensi PBB tentang Hukum Laut) sulit, sekaligus memperumit diplomasi keamanan regional.
Nuansa yang Lebih Dalam
Fenomena reklamasi ini sesungguhnya bukan sekadar “membangun pulau”. Ia mencerminkan upaya negara-negara pemilik klaim untuk mempertegas kedaulatan, memperkuat posisi tawar diplomatik, serta menjamin akses terhadap sumber daya laut yang kaya termasuk ikan, minyak, dan gas bawah laut. Dengan pertumbuhan pulau buatan juga mengundang kritik lingkungan karena dapat merusak ekosistem terumbu karang yang rapuh dan berdampak pada kehidupan nelayan tradisional di kawasan. (Catatan dari isu lingkungan sering disebut dalam kajian akademik terkait reklamasi pulau, meski tidak semua laporan berita menyebutkan detail ini).
Komentar
Posting Komentar