Postingan Utama

Modus Visa Semakin Marak Terjadi Dimana Mana "Solusi Sangat Efektif Menghindari, Penipuan Visa Agar Tidak Tertipu"

Penipuan visa semakin marak seiring meningkatnya minat masyarakat untuk bekerja, belajar, atau bepergian ke luar negeri. Modus penipuan pun semakin beragam, mulai dari agen palsu, dokumen fiktif, hingga janji kelulusan visa tanpa proses resmi. Oleh karena itu, penting bagi calon pemohon visa untuk memahami cara menghindari penipuan agar tidak mengalami kerugian finansial maupun hukum. Modus Penipuan Visa yang Sering Terjadi Beberapa modus penipuan visa yang umum ditemui antara lain meliputi : Janji visa dijamin 100% disetujui tanpa wawancara atau persyaratan lengkap, Agen tidak resmi yang mengaku memiliki “orang dalam” di kedutaan, Biaya murah atau terlalu mahal yang tidak masuk akal dan tidak transparan, Dokumen palsu, seperti surat sponsor atau undangan kerja fiktif, Permintaan transfer uang pribadi tanpa bukti atau kontrak resmi. Solusi dan Cara Menghindari Penipuan Visa Gunakan Jalur Resmi Ajukan visa langsung melalui kedutaan, konsulat, atau situs resmi imigrasi negara tujuan. Jik...

Kisah Nyata Tapi Unik Dikarenakan "Warga Tangsel Bisa Meraup Ratusan Rupiah Di CFD Karena Foto Bareng Ular"

 


Setiap Minggu pagi kawasan Car Free Day (CFD) di Tangerang Selatan selalu ramai oleh warga yang berolahraga, berjalan santai, hingga sekadar menikmati suasana pagi. Namun di antara keramaian itu, ada satu pemandangan yang belakangan menarik perhatian banyak orang: seorang warga Tangsel yang menawarkan jasa foto bersama ular jinak.

Pria tersebut bernama Rudi (bukan nama sebenarnya), warga Pamulang, Tangerang Selatan. Ia datang ke area CFD dengan membawa seekor ular piton kecil yang sudah jinak dan terbiasa berinteraksi dengan manusia. Ular itu ia letakkan melingkar di leher atau lengan pengunjung yang ingin berfoto, sambil ia sendiri membantu mengambilkan gambar menggunakan ponsel pengunjung. Awalnya Rudi hanya iseng membawa ularnya ke CFD. Ia tidak menyangka banyak orang, terutama anak muda dan keluarga, tertarik untuk berfoto bersama hewan yang jarang mereka temui dari dekat. “Awalnya cuma buat hiburan. Tapi ternyata banyak yang mau foto, jadi saya pasang kotak kecil buat seikhlasnya,” ujar Rudi sambil tersenyum.

Dari situlah penghasilan mulai mengalir. Dalam satu kali CFD, Rudi bisa melayani puluhan orang. Rata-rata pengunjung memberi uang mulai dari Rp5.000 hingga Rp.20.000,- per foto. Jika ramai, penghasilannya bisa mencapai ratusan ribu rupiah hanya dalam beberapa jam. “Pernah sampai hampir ratusan ribu rupiah dalam satu pagi,” katanya. Meski demikian Rudi tetap mengutamakan keamanan dan kenyamanan. Ia selalu memastikan ularnya dalam kondisi sehat, tidak lapar, dan tidak agresif. Ia juga memberi penjelasan singkat kepada pengunjung cara memegang ular dengan aman sebelum berfoto. Jika ada anak kecil, ia meminta orang tua mendampingi.

Bagi Rudi, aktivitas ini bukan hanya soal uang, tapi juga edukasi. Ia ingin mengubah stigma bahwa semua ular berbahaya dan menakutkan. “Kalau kita kenal dan perlakukan dengan benar, ular itu tidak sejahat yang dibayangkan,” ujarnya. Kisah Rudi menjadi contoh bagaimana kreativitas sederhana bisa membuka peluang rezeki. Dari hobi memelihara ular, ia mampu menciptakan hiburan unik bagi warga CFD sekaligus menambah penghasilan. Di tengah hiruk pikuk kota, kisah kecil seperti ini menjadi warna tersendiri yang membuat CFD Tangerang Selatan semakin hidup dan berkesan.

Komentar