Dahulu di usia 18 tahun disebut sebagai garis akhir. Garis yang menandai bahwa seseorang telah meninggalkan masa remaja dan memasuki dunia dewasa dengan penuh kesiapan. Di usia itu, kita diharapkan tahu siapa diri kita, apa tujuan hidup kita, dan ke mana langkah akan diarahkan. Namun zaman berubah, dan bersama perubahan itu, makna “remaja” pun ikut bergeser.
Hari ini, remaja tidak lagi berakhir di usia 18 tahun
Di sebuah kota yang sibuk, ada seorang pemuda bernama Arga. Usianya 23 tahun, secara hukum ia dewasa. KTP di tangannya, tanggung jawab di pundaknya. Namun di dalam dirinya, masih ada kebingungan yang sama seperti lima tahun lalu: tentang masa depan, tentang pilihan hidup, tentang rasa takut gagal yang diam diam membesar setiap malam. Arga bukan satu-satunya. Banyak anak muda seusianya masih bertanya tanya, “Apakah wajar jika aku belum tahu ingin jadi apa?” “Apakah aku tertinggal karena belum mencapai apa-apa?” Pertanyaan-pertanyaan ini dulu identik dengan remaja SMA. Kini, ia hidup di kepala mahasiswa, pekerja muda, bahkan mereka yang hampir menginjak kepala tiga.
Zaman bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengejar kepastian
Tekanan sosial datang dari segala arah. Media sosial memajang keberhasilan seolah hidup adalah lomba dengan garis finish yang sama. Di usia 20an, sebagian sudah mapan, sebagian menikah, sebagian keliling dunia. Sementara yang lain masih berjuang memahami dirinya sendiri. Perbandingan itu pelan pelan menggerus rasa percaya diri, membuat seseorang merasa “terlambat” dalam hidup yang sebenarnya tidak pernah punya jadwal baku. Di masa lalu, dewasa berarti bekerja, menikah, dan hidup mandiri. Hari ini, dewasa berarti bertahan. Bertahan dari tuntutan ekonomi, dari ekspektasi keluarga, dari ketidakpastian masa depan. Tidak sedikit yang secara mental masih berada di fase pencarian jati diri, meski usia telah jauh meninggalkan angka 18.
Remaja kini bukan lagi soal usia, melainkan kondisi jiwa
Remaja adalah fase bertanya, dan ternyata bertanya tidak berhenti hanya karena umur bertambah. Kita masih mencari makna, masih jatuh bangun oleh emosi, masih belajar mengenal diri sendiri. Hanya saja, dunia tidak lagi memberi ruang untuk terlihat bingung. Kita dituntut tampak kuat, matang, dan “sudah jadi”. Arga sering duduk sendirian di halte malam hari, memandangi lampu jalan. Ia menyadari satu hal penting: menjadi dewasa bukan berarti semua pertanyaan terjawab. Menjadi dewasa adalah berani hidup berdampingan dengan pertanyaan itu, tanpa membenci diri sendiri karenanya. Renungan zaman ini mengajarkan bahwa tidak apa-apa jika remaja kita lebih panjang. Tidak apa-apa jika kita masih belajar, masih salah, masih takut. Hidup bukan perlombaan cepat sampai, melainkan perjalanan panjang yang tiap orang tempuh dengan kecepatan berbeda. Mungkin yang perlu diubah bukan usia remaja, melainkan cara kita memandang proses. Bahwa tumbuh dewasa tidak selalu lurus, tidak selalu rapi, dan sering kali penuh jeda. Bahwa menjadi “belum selesai” bukan sebuah kegagalan, melainkan tanda bahwa kita masih bergerak.
Remaja tidak lagi berakhir di usia 18 tahun
Dia hidup dalam kegelisahan anak muda zaman ini, dalam mimpi yang tertunda, dalam harapan yang belum padam. Dan mungkin, di sanalah letak kemanusiaan kita: terus bertumbuh, meski tak selalu tahu ke mana arah akhirnya. Pada akhirnya karena hidup bukan tentang cepat menjadi dewasa, melainkan tentang berani jujur menjalani proses menjadi diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar