Dunia pariwisata terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman, teknologi, dan gaya hidup masyarakat. Di Indonesia, nama Trinity Travel cukup dikenal sebagai pelopor penulisan perjalanan yang jujur, apa adanya, dan dekat dengan realitas backpacker. Namun, seiring berjalannya waktu, gaya wisata masa kini mengalami banyak pergeseran. Lalu, apa saja perbedaannya?
Spirit Perjalanan Antara Cerita Dengan Citra
Trinity Travel menekankan perjalanan sebagai pengalaman personal. Kisah kisahnya banyak berisi kejadian tak terduga, kesalahan di jalan, interaksi dengan warga lokal, hingga refleksi diri. Fokusnya bukan pada kesempurnaan, melainkan kejujuran cerita. Sementara itu, gaya wisata masa kini cenderung lebih berorientasi pada citra. Perjalanan sering kali dirancang untuk menghasilkan foto dan video menarik bagi media sosial. Destinasi dipilih berdasarkan “Instagrammable” atau tren viral, bukan semata pengalaman personal.
Gaya Perjalanan Antara Backpacker Dengan Fleksibel Dan Instan
Trinity Travel identik dengan gaya backpacker untuk transportasi umum, penginapan murah, itinerary fleksibel, dan anggaran minim. Perjalanan dilakukan dengan semangat petualangan dan kemandirian. Sebaliknya, wisatawan masa kini lebih fleksibel dan instan. Aplikasi perjalanan, hotel berbintang dengan harga promo, hingga jasa open trip membuat perjalanan lebih praktis. Tidak sedikit wisatawan yang ingin serba nyaman tanpa harus repot merencanakan detail sendiri.
Sumber Informasi Antara Buku Dan Blog Dengan Media Sosial
Pada masanya, Trinity Travel hadir melalui buku dan blog sebagai sumber inspirasi utama. Pembaca menikmati cerita panjang yang detail dan reflektif. Sekarang gaya wisata masa kini sangat dipengaruhi oleh media sosial seperti media sosial lainnya, Informasi disajikan singkat, visual, dan cepat. Rekomendasi destinasi sering berasal dari konten viral, bukan pengalaman mendalam.
Makna Wisata Antara Perjalanan Batin Dengan Konsumsi Pengalaman
Dalam Trinity Travel, wisata merupakan sarana belajar, memahami budaya, dan mengenal diri sendiri. Perjalanan memiliki makna emosional dan batiniah. Sementara itu, wisata masa kini lebih sering menjadi bentuk konsumsi pengalaman. Traveling adalah bagian dari gaya hidup dan identitas sosial, terkadang lebih untuk dibagikan daripada direnungkan.
Kesamaan Yang Tetap Bertahan
Meski berbeda, keduanya memiliki benang merah yang sama dengan keinginan untuk menjelajah dan keluar dari rutinitas. Baik Trinity Travel maupun gaya wisata masa kini sama sama mendorong orang untuk berani pergi, melihat dunia, dan membuka wawasan.
Trinity Travel merepresentasikan era perjalanan yang sederhana, jujur, dan penuh cerita, sementara gaya wisata masa kini mencerminkan kecepatan, visual, dan kemudahan teknologi. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, melainkan saling melengkapi. Pada akhirnya, cara terbaik berwisata adalah yang paling sesuai dengan kebutuhan, nilai, dan makna personal setiap pelancong.
Komentar
Posting Komentar