Di era media sosial, tren tentang pola makan sering muncul dan viral dengan cepat. Mulai dari what I eat in a day, diet ekstrem, puasa panjang, hingga gaya hidup “great lock-in” di mana seseorang lebih banyak mengurung diri di rumah dan hidup secara digital. Sayangnya di balik tren yang terlihat menarik ini, terdapat risiko gangguan makan (eating disorder) dan pola makan tidak sehat, terutama di kalangan Gen Z yang sangat terpapar konten digital. Gangguan makan bukan hanya soal berat badan, tetapi tentang hubungan yang tidak sehat dengan makanan, tubuh, dan kontrol diri. Oleh karena itu, penting untuk mengenali risikonya dan tahu cara mengatasinya.
Mengapa Tren Viral Bisa Memicu Gangguan Makan?
beberapa faktor yang membuat tren viral berisiko seperti :
Standar tubuh tidak realistis
Banyak konten menampilkan tubuh “ideal” tanpa menunjukkan proses yang sehat atau realistis.
Normalisasi pola makan ekstrem
Diet sangat rendah kalori, puasa berlebihan, atau hanya makan satu jenis makanan dianggap wajar karena viral.
Perbandingan sosial terus menerus
Gen Z lebih sering membandingkan diri dengan influencer, yang memicu rasa tidak puas pada tubuh sendiri.
Isolasi sosial akibat “great lock-in”
Lebih banyak waktu sendirian membuat seseorang mudah terjebak pikiran obsesif tentang makanan, berat badan, dan penampilan.
Tanda Pola Makan Sudah Mulai Tidak Sehat
waspadai jika muncul tanda tanda berikut misalkan :
Merasa bersalah atau cemas setelah makan.
Takut berlebihan terhadap makanan tertentu (karbohidrat, gula, lemak).
Terlalu sering menimbang berat badan.
Menggunakan diet ekstrem sebagai cara “mengontrol hidup”.
Menarik diri dari acara sosial yang melibatkan makanan.
Tips Mengatasi Pola Makan Berisiko Gangguan Makan
Bangun Kesadaran Media Sosial (Media Literacy)
sadarilah bahwa konten viral sering seperti :
Dikurasi,
Diedit,
Tidak mencerminkan kehidupan nyata,
Batasi konsumsi konten diet ekstrem dan ikuti akun yang mempromosikan kesehatan holistik dan body positivity.
Fokus pada Fungsi Tubuh, Bukan Penampilan
Alihkan fokus dari “tubuh terlihat bagaimana” menjadi seperti :
Tubuh saya kuat?,
Saya punya energi?,
Saya bisa berpikir jernih?.
Tubuh yang sehat bukan selalu yang paling kurus, tapi yang paling berfungsi optimal.
Terapkan Pola Makan Seimbang, Bukan Restriktif
gunakan prinsip sederhana dengan :
Ada karbohidrat, protein, lemak sehat, serat.
Makan teratur 3 kali sehari ditambah camilan bila perlu.
Tidak ada makanan yang “jahat”, hanya ada hanya porsi dan frekuensi.
Dengarkan Sinyal Tubuh (Intuitive Eating)
Belajar untuk mengenali seperti :
Lapar fisik vs lapar emosional,
Kenyang nyaman vs terlalu penuh,
Ini membantu membangun kembali hubungan sehat dengan makanan.
Jaga Kesehatan Mental di Era “Great Lock-In”
Ciptakan rutinitas harian (bangun, makan, bergerak, istirahat).
Kurangi isolasi misalkan ngobrol dengan teman, keluarga, atau komunitas.
Lakukan aktivitas offline yang menyenangkan (olahraga ringan, hobi, jalan sore).
Cari Bantuan Profesional Bila Diperlukan
jika pikiran tentang makanan dan tubuh sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya mencari bantuan seperti :
Psikolog atau psikiater,
Ahli gizi klinis,
Gangguan makan bukan kelemahan pribadi, tapi kondisi kesehatan yang bisa ditangani.
Kesimpulan
Tren viral datang dan pergi, tetapi kesehatan fisik dan mental adalah investasi jangka panjang. Gen Z perlu dibekali kesadaran bahwa tidak semua yang populer itu sehat, dan tidak semua yang sehat itu harus viral. Dengan membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan, tubuh, dan media sosial, kita bisa melindungi diri dari dampak negatif tren yang tampaknya “keren”, tetapi diam diam berisiko.
Komentar
Posting Komentar