Dunia fashion di tahun 2025 menunjukkan pergeseran besar, khususnya di kalangan Generasi Z. Jika sebelumnya tren berpakaian lebih banyak mengikuti selebritas atau influencer, kini Gen Z justru menjadikan fashion sebagai sarana ekspresi diri, nilai personal, hingga pernyataan sosial. Fashion bukan lagi sekadar “ikut ikutan”, melainkan menjadi bagian dari identitas.
Ekspresi Diri Jadi Prioritas
Gen Z dikenal sebagai generasi yang lebih terbuka, berani berbeda, dan kritis terhadap nilai sosial. Hal ini tercermin dari gaya berpakaian mereka yang cenderung unik, personal, dan tidak terikat pada satu aliran tertentu. Di tahun ini, muncul tren mix and match lintas gaya, seperti memadukan streetwear dengan unsur formal, busana vintage dengan aksesori modern, hingga gaya Y2K yang dikombinasikan dengan sentuhan minimalis. Perpaduan ini menciptakan tampilan yang tidak seragam, namun justru menjadi ciri khas Gen Z.
Dominasi Gaya “Authentic Fashion”
Alih-alih mengejar brand mahal, banyak Gen Z lebih memilih konsep authentic fashion, berpakaian sesuai kepribadian dan kenyamanan diri. Thrifting, upcycling, serta penggunaan produk lokal semakin populer karena dianggap lebih ramah lingkungan dan mencerminkan kesadaran sosial. “Sekarang bukan soal merek apa yang dipakai, tapi cerita apa di balik pakaian itu,” ujar Rina (21), mahasiswa sekaligus content creator fashion. Menurutnya, pakaian bisa merepresentasikan kepedulian terhadap lingkungan, budaya lokal, atau bahkan sikap terhadap isu sosial.
Media Sosial Sebagai Panggung Tren
Platform seperti media sosial lainnya berperan besar dalam menyebarkan tren fashion Gen Z. Namun berbeda dari generasi sebelumnya, Gen Z tidak hanya meniru, melainkan memodifikasi tren sesuai gaya masing masing. Dari sinilah lahir berbagai subtren seperti clean girl aesthetic, gorpcore, hingga retro-futuristic style yang terus berkembang. Tren yang viral pun memiliki siklus lebih cepat, namun tetap memberi ruang bagi kreativitas personal. Hal ini membuat dunia fashion menjadi lebih dinamis dan inklusif.
Fashion sebagai Pernyataan Nilai
Bagi Gen Z, fashion juga menjadi alat komunikasi nilai. Isu keberlanjutan, kesetaraan gender, inklusivitas ukuran, hingga keberagaman budaya tercermin dalam pilihan busana mereka. Brand yang tidak memiliki nilai sosial cenderung ditinggalkan, meskipun produknya populer. “Gen Z membeli bukan hanya karena suka, tapi karena merasa sejalan secara nilai,” kata seorang pengamat fashion dari Jakarta Fashion Institute.
Kesimpulan
Dominasi fashion di kalangan Gen Z pada 2025 bukan sekadar fenomena tren musiman. Ini adalah bentuk perubahan cara berpikir generasi muda terhadap pakaian: dari sekadar penutup tubuh menjadi medium ekspresi, identitas, dan sikap hidup. Fashion kini bukan lagi tentang mengikuti arus, melainkan tentang menciptakan makna.
Komentar
Posting Komentar