Pada awal hidup Raka tampak biasa saja. Ia adalah pria berusia 34 tahun yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Gajinya cukup, hidupnya sederhana, dan tak pernah ada yang menyangka bahwa suatu hari namanya akan muncul di berita. Bukan karena prestasi, melainkan karena sebuah keputusan yang mengubah segalanya. staycation mewah yang berujung penjara.
Awal Mula Godaan
Semuanya bermula saat Raka merasa jenuh dengan rutinitas kerja yang monoton. Setiap hari ia duduk di balik meja, menatap layar komputer, dan pulang larut malam. Media sosial menjadi pelariannya. Di sana ia melihat foto-foto teman dan influencer yang menginap di hotel bintang lima, menikmati infinity pool, spa mewah, dan pemandangan kota dari lantai puluhan.
“Sekali sekali memanjakan diri tidak apa-apa,” pikirnya. Awalnya pria ini hanya memesan satu malam di hotel mewah. Tapi satu malam terasa kurang. Ia menambah menjadi tiga malam, lalu seminggu. Ia mulai memesan suite termahal, memesan layanan kamar eksklusif, champagne, fine dining, dan spa setiap hari. Dalam hitungan minggu, biaya staycation itu membengkak, dari puluhan juta menjadi ratusan juta rupiah.
Dari Tabungan ke Utang
Tabungan Raka habis. Tapi gaya hidup itu sudah terlanjur menjadi candu. Ia tak ingin kembali ke kamar kos sempitnya dan kehidupan lamanya. Maka ia mulai memakai kartu kredit. Satu kartu penuh, ia pakai kartu lain. Tagihan membengkak hingga ratusan juta rupiah. Masalahnya, gajinya jelas tidak sanggup menutupinya. Dalam keadaan panik itu Raka membuat keputusan fatal, pria ini mulai menyalahgunakan akses keuangan di kantor. Ia memindahkan dana perusahaan sedikit demi sedikit, dengan niat “nanti diganti kalau sudah gajian”. Tapi lubangnya terlalu besar. Jumlah yang ia ambil makin besar, sampai akhirnya mencapai ratusan juta rupiah.
Terbongkar dan Jatuh
Audit internal perusahaan menemukan kejanggalan. Aliran dana yang tak wajar mengarah langsung ke akun Raka. Ia dipanggil, diperiksa, dan tak bisa mengelak. Semua terungkap, uang perusahaan dipakai untuk membayar hotel, spa, restoran mewah, dan fasilitas staycation. Raka dipecat di tempat. Tak lama kemudian, laporan pidana dibuat. Ia ditetapkan sebagai tersangka penggelapan dan dibawa ke kantor polisi. Beberapa bulan kemudian, pengadilan memvonisnya bersalah. Ia dijatuhi hukuman penjara dan diwajibkan mengganti kerugian perusahaan.
Di Balik Jeruji Apa Yang Terjadi
Di balik jeruji besi, Raka akhirnya benar enar “beristirahat”, tapi bukan di hotel mewah dengan pemandangan kota, melainkan di sel sempit dengan tembok dingin. Pria ini menyesali semua keputusannya. "Saya hanya ingin istirahat sebentar dari hidup saya,” katanya dalam salah satu sesi pembinaan. “Tapi saya malah menghancurkan hidup saya sendiri.”
Pelajaran dari Kisah Ini
Kisah Raka adalah pengingat pahit bahwa seperti :
Keinginan untuk “healing” tidak salah, tapi harus sesuai kemampuan.
Gaya hidup yang dipaksakan bisa mendorong seseorang melakukan hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Media sosial sering menampilkan kemewahan tanpa memperlihatkan konsekuensinya.
Keputusan kecil yang salah, jika diulang terus, bisa berujung pada kehancuran besar.
Staycation seharusnya menjadi sarana melepas penat, bukan jalan menuju jeruji besi.
Karena pada akhirnya, kebahagiaan yang dibangun di atas utang, kebohongan, dan pelanggaran hukum tak pernah benar benar membawa ketenangan. Hanya menunda datangnya penyesalan.
Komentar
Posting Komentar