Postingan Utama

Modus Visa Semakin Marak Terjadi Dimana Mana "Solusi Sangat Efektif Menghindari, Penipuan Visa Agar Tidak Tertipu"

Penipuan visa semakin marak seiring meningkatnya minat masyarakat untuk bekerja, belajar, atau bepergian ke luar negeri. Modus penipuan pun semakin beragam, mulai dari agen palsu, dokumen fiktif, hingga janji kelulusan visa tanpa proses resmi. Oleh karena itu, penting bagi calon pemohon visa untuk memahami cara menghindari penipuan agar tidak mengalami kerugian finansial maupun hukum. Modus Penipuan Visa yang Sering Terjadi Beberapa modus penipuan visa yang umum ditemui antara lain meliputi : Janji visa dijamin 100% disetujui tanpa wawancara atau persyaratan lengkap, Agen tidak resmi yang mengaku memiliki “orang dalam” di kedutaan, Biaya murah atau terlalu mahal yang tidak masuk akal dan tidak transparan, Dokumen palsu, seperti surat sponsor atau undangan kerja fiktif, Permintaan transfer uang pribadi tanpa bukti atau kontrak resmi. Solusi dan Cara Menghindari Penipuan Visa Gunakan Jalur Resmi Ajukan visa langsung melalui kedutaan, konsulat, atau situs resmi imigrasi negara tujuan. Jik...

Di Kota Nagoya, Jepang. Menyimpan Kisah Dan Cerita "Seorang Laki Laki Bernama Takuya Higashimoto Selama Dua Tahun Dapat Gratis Makanan Sekitar 1.095 Dengan memanfaatkan Refund"

 


Latar Belakang

Takuya Higashimoto adalah seorang pria berusia 38 tahun yang tinggal di wilayah Nagoya, Prefektur Aichi, Jepang. 
Dilaporkan bahwa ia telah menganggur selama beberapa tahun sebelum melakukan tindakannya. 
Modus Operandi
Higashimoto menggunakan aplikasi pengantaran makanan, yakni Demae can, untuk memesan makanan. Tetapi kemudian mengklaim bahwa pesanan tidak sampai, sehingga memperoleh pengembalian dana (refund). 
Dia membuat 124 akun palsu dengan nama samaran, alamat palsu, dan nomor telepon pra-bayar untuk mendaftar dan memesan. 
Pilihan pengantaran: “kontak tanpa langsung” (contactless delivery), agar ia bisa menerima makanan, kemudian mengklaim tidak menerimanya lewat chat aplikasi. 
Sebagai contoh spesifik: pada tanggal 30 Juli (tahun tidak disebut secara eksplisit, namun dalam rentang kasus), ia membuat akun baru, memesan ice cream, bento (kotak makanan), dan chicken steak, lalu mengklaim tidak menerima dan mendapat refund sekitar ¥16.000. 
Skala dan Dampak
Ia menempatkan 1.095 pesanan dalam kurun waktu kira kira dua tahun (mulai April 2023 hingga Oktober 2025) dengan cara seperti di atas. 
Kerugian yang ditimbulkan terhadap platform dan pedagang mencapai lebih dari ¥3,7 juta Jepang (lebih dari US$24.000). Dia mengaku kepada polisi “Awalnya saya hanya mencoba trik ini. Tapi setelah berhasil, saya tidak bisa berhenti.” 

Penangkapan Dan Tindak Lanjut
pihak kepolisian Prefektur Aichi menangkap Higashimoto awal Oktober 2025. 
platform Demae can kemudian menyatakan bahwa mereka akan memperketat verifikasi identitas pengguna dan memperbaiki sistem deteksi transaksi yang mencurigakan. 

Refleksi Dan Pelajaran Yang Di Dapat Dari Kejadian Ini
kasus ini menunjukkan bagaimana sistem pengantaran makanan, terutama pilihan pengantaran tanpa kontak fisik dan mekanisme refund otomatis, dapat dimanfaatkan oleh pelaku jahat bila verifikasi identitas kurang kuat.
ada dilema antara kemudahan layanan bagi pengguna (cek out cepat, pengantaran tanpa tatap muka) dan kebutuhan untuk mencegah penyalahgunaan dan beban bagi pedagang.
bagi layanan aplikasi dan pedagang sangat penting adanya sistem audit otomatis untuk pola pemesanan yang tidak lazim (misalnya banyak akun baru, banyak refund, alamat yang berubah ubah).
bagi pengguna umum walaupun kasus ini bisa tampak “menguntungkan” bagi pelaku, tentu saja tindakan tersebut melanggar hukum (penipuan) dan merugikan banyak pihak, termasuk pedagang kecil yang harus menanggung kerugian.

Komentar