Postingan Utama

Modus Visa Semakin Marak Terjadi Dimana Mana "Solusi Sangat Efektif Menghindari, Penipuan Visa Agar Tidak Tertipu"

Penipuan visa semakin marak seiring meningkatnya minat masyarakat untuk bekerja, belajar, atau bepergian ke luar negeri. Modus penipuan pun semakin beragam, mulai dari agen palsu, dokumen fiktif, hingga janji kelulusan visa tanpa proses resmi. Oleh karena itu, penting bagi calon pemohon visa untuk memahami cara menghindari penipuan agar tidak mengalami kerugian finansial maupun hukum. Modus Penipuan Visa yang Sering Terjadi Beberapa modus penipuan visa yang umum ditemui antara lain meliputi : Janji visa dijamin 100% disetujui tanpa wawancara atau persyaratan lengkap, Agen tidak resmi yang mengaku memiliki “orang dalam” di kedutaan, Biaya murah atau terlalu mahal yang tidak masuk akal dan tidak transparan, Dokumen palsu, seperti surat sponsor atau undangan kerja fiktif, Permintaan transfer uang pribadi tanpa bukti atau kontrak resmi. Solusi dan Cara Menghindari Penipuan Visa Gunakan Jalur Resmi Ajukan visa langsung melalui kedutaan, konsulat, atau situs resmi imigrasi negara tujuan. Jik...

Kabar Dari UNESCO Yang Menurut Pendapatnya " Bawa Seorang Guru Tidak Bisa Di gantikan Oleh AI Tapi Hanya Dapat Didampingi"

  


UNESCO secara konsisten menegaskan bahwa peran guru dalam pendidikan tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan (AI). AI harus diposisikan sebagai alat pelengkap, bukan pengganti, yang memperkaya proses pembelajaran tanpa menghilangkan interaksi kemanusiaan yang esensial.

Teknologi Tidak Menggantikan Interaksi Manusia

Direktur Jenderal UNESCO (Audrey Azoulay) menyatakan bahwa teknologi pendidikan “bukan pengganti interaksi manusia” serta menekankan bahwa penggunaan teknologi harus mendukung proses belajar, bukan mengabaikannya.

AI sebagai Pelengkap Bukan Pengganti

UNESCO menerbitkan rekomendasi etika AI yang menekankan "AI seharusnya tidak menggantikan tanggung jawab manusia secara menyeluruh”, Sistem pendidikan harus menjamin keadilan.  Tanggung jawab  dan pemeliharaan peran guru sebagai pengambil keputusan utama dalam pembelajaran

Guru Selalu Dibutuhkan Peran Mereka Akan Berubah

Menurut pandangan Stuart J. Russell dalam wawancara bersama UNESCO meskipun AI dapat menjadi “penolong” dalam pendidikan, tugas guru akan tetap berubah bukan hilang. Guru diperlukan untuk memfasilitasi keterlibatan siswa dan mengarahkan pencarian solusi, bukan menyampaikan jawaban secara instan UNESCO.

AI untuk Meningkatkan Kualitas, Bukan Menggantikan

Webinar seperti “Lifelong learning for teachers in the age of AI”, menunjukkan komitmen UNESCO untuk mendukung guru agar terus berkembang dalam menghadapi AI. AI difokuskan untuk memperluas keterampilan guru, seperti literasi digital, berpikir kritis, dan pemahaman etika teknologi UNESCO. Selain itu pada Internasional Day of Education 2025, UNESCO menyatakan bahwa AI “harus melengkapi dimensi sosial dan pembelajaran manusia, bukan menggantikannya” Agen Berita Filipina.

AI Tidak Bisa Menggantikan Kualitas Emosional dan Intelektual Guru

Kerangka kompetensi UNESCO menyoroti bahwa kemampuan seperti kreativitas, kecerdasan emosional, hubungan interpersonal, dan kehadiran guru dalam membangun nilai tidak bisa ditiru oleh AI.

Kesimpulan 

Poin utama penjelasan singkat interaksi manusia tak tergantikan Teknologi hanya pelengkap, bukan pengganti hubungan sosial guru dan siswa. AI sebagai pelengkap, AI bisa membantu guru tetap memegang kendali atas proses belajar. Guru tetap diperlukan peran berubah, dari sumber tahu ke fasilitator dan pembimbing. Profesionalisme guru ditingkatkan fokus, UNESCO pada pelatihan literasi AI dan etika pengajaran. Nilai nilai kemanusiaan esensial kreativitas, empati, dan inspirasi tidak bisa diotomatisasi.

UNESCO menekankan bahwa di era transformasi digital, pendidikan yang bermakna tetap membutuhkan sentuhan manusia dari para guru. AI hanyalah alat yang mendukung, bukan pengganti.

Komentar