Postingan Utama

Modus Visa Semakin Marak Terjadi Dimana Mana "Solusi Sangat Efektif Menghindari, Penipuan Visa Agar Tidak Tertipu"

Penipuan visa semakin marak seiring meningkatnya minat masyarakat untuk bekerja, belajar, atau bepergian ke luar negeri. Modus penipuan pun semakin beragam, mulai dari agen palsu, dokumen fiktif, hingga janji kelulusan visa tanpa proses resmi. Oleh karena itu, penting bagi calon pemohon visa untuk memahami cara menghindari penipuan agar tidak mengalami kerugian finansial maupun hukum. Modus Penipuan Visa yang Sering Terjadi Beberapa modus penipuan visa yang umum ditemui antara lain meliputi : Janji visa dijamin 100% disetujui tanpa wawancara atau persyaratan lengkap, Agen tidak resmi yang mengaku memiliki “orang dalam” di kedutaan, Biaya murah atau terlalu mahal yang tidak masuk akal dan tidak transparan, Dokumen palsu, seperti surat sponsor atau undangan kerja fiktif, Permintaan transfer uang pribadi tanpa bukti atau kontrak resmi. Solusi dan Cara Menghindari Penipuan Visa Gunakan Jalur Resmi Ajukan visa langsung melalui kedutaan, konsulat, atau situs resmi imigrasi negara tujuan. Jik...

Kabar Dari Masyarakat Kita, Apakah Ini Fakta Atau Pendapat? "Fakta Utang Masyarakat RI Bukan Paylater, tapi Pinjol Jadi Beban Utama"

 


Belakangan ini masyarakat indonesia ramai membicarakan soal fenomena paylater, sebagai gaya hidup baru terutama di kalangan generasi muda. Banyak anggapan bahwa utang masyarakat paling besar datang dari fitur pembayaran tunda tersebut. Namun, data resmi dan hasil riset menunjukkan kenyataannya justru berbeda. Utang terbesar masyarakat Indonesia bukan berasal dari paylater, melainkan dari pinjaman online alias pinjol.

Data OJK dan BI :

Pinjol Lebih Dominan

Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), nilai transaksi dan jumlah debitur di sektor pinjol jauh lebih besar dibandingkan paylater,

Per Juli 2025, total pinjaman yang masih berjalan di fintech peer-to-peer lending (pinjol) tercatat mencapai ratusan triliun rupiah,

Sebaliknya nominal transaksi paylater memang tumbuh pesat, tetapi masih kalah jauh dari total utang pinjol.

Paylater itu lebih banyak digunakan untuk belanja konsumtif harian seperti makanan, transportasi, atau e-commerce. Sementara pinjol dipakai untuk kebutuhan dana tunai yang lebih besar, sehingga nilai outstanding-nya jauh lebih tinggi,” ungkap seorang pejabat OJK.

Perbedaan Pinjol Dan Paylater :

Perbedaan Fungsi Pinjol umumnya dipakai untuk kebutuhan dana darurat, usaha kecil, atau biaya mendesak, dengan bunga relatif tinggi.

Paylater lebih condong ke pembayaran fleksibel dalam jumlah kecil, dengan tenor singkat, biasanya 1 dan 3 bulan.

Artinya meski paylater sering jadi sorotan di media sosial karena dianggap mencerminkan gaya hidup konsumtif, beban utang masyarakat paling nyata justru lebih banyak datang dari pinjol.

Fakta atau Pendapat?

Pernyataan bahwa utang masyarakat Indonesia lebih banyak di pinjol dibanding paylater adalah fakta, bukan sekadar pendapat. Hal ini dibuktikan dengan data statistik resmi yang dikeluarkan OJK dan BI.

Namun, persepsi publik yang menganggap paylater lebih berbahaya biasanya lahir dari dampak langsung terhadap perilaku konsumsi anak muda, meski jumlah nominalnya lebih kecil dibanding pinjol.

Kesimpulan

Fenomena utang digital di Indonesia memang punya dua wajah paylater yang lekat dengan gaya hidup konsumtif, dan pinjol yang menjerat lewat kebutuhan dana cepat. Namun, bila bicara angka riil, pinjol masih menjadi penyumbang utama utang masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Komentar