Postingan Utama

Modus Visa Semakin Marak Terjadi Dimana Mana "Solusi Sangat Efektif Menghindari, Penipuan Visa Agar Tidak Tertipu"

Penipuan visa semakin marak seiring meningkatnya minat masyarakat untuk bekerja, belajar, atau bepergian ke luar negeri. Modus penipuan pun semakin beragam, mulai dari agen palsu, dokumen fiktif, hingga janji kelulusan visa tanpa proses resmi. Oleh karena itu, penting bagi calon pemohon visa untuk memahami cara menghindari penipuan agar tidak mengalami kerugian finansial maupun hukum. Modus Penipuan Visa yang Sering Terjadi Beberapa modus penipuan visa yang umum ditemui antara lain meliputi : Janji visa dijamin 100% disetujui tanpa wawancara atau persyaratan lengkap, Agen tidak resmi yang mengaku memiliki “orang dalam” di kedutaan, Biaya murah atau terlalu mahal yang tidak masuk akal dan tidak transparan, Dokumen palsu, seperti surat sponsor atau undangan kerja fiktif, Permintaan transfer uang pribadi tanpa bukti atau kontrak resmi. Solusi dan Cara Menghindari Penipuan Visa Gunakan Jalur Resmi Ajukan visa langsung melalui kedutaan, konsulat, atau situs resmi imigrasi negara tujuan. Jik...

Kabar Dari Chatbot Atau Sistem AI Telah Mengantikan Tenaga Kerja Manusia "Bank Perbankan Australia Telah Menggantikan Karyawan dengan Chatbot AI, Ketika Pelatih Jadi Korban Teknologi"

 


Kronologi dan Latar Belakang

Pada Juli 2025, Commonwealth Bank of Australia (CBA), salah satu bank terbesar di negeri tersebut, melakukan pemecatan terhadap 45 karyawan di divisi panggilan pelanggan. Langkah ini terkait implementasi chatbot atau sistem AI  yang dikembangkan untuk menangani pertanyaan dasar nasabah.

Ironi yang Menyakitkan

Sosok utama dalam kisah ini adalah Kathryn Sullivan (63 tahun), seorang pegawai berpengalaman dengan masa kerja 25 tahun. Ironisnya, Sullivan adalah salah satu pihak yang membantu membuat skrip dan menguji respons untuk chatbot Bumblebee, dan tanpa disadari, membimbing sistem yang akhirnya menggantikan posisinya. Ia menyatakan, “Tanpa sengaja, saya melatih chatbot yang mengambil pekerjaan saya”.

Gejolak Dan kekecewaan

Sullivan dan rekan-rekannya mengalami "shock" mendalam. Dia berharap akan dipindahkan ke posisi lain setelah proyek selesai, namun justru diberhentikan. Ia juga mengungkap pernah mengalami "ghosting" selama delapan hari kerja tanpa penjelasan dari manajemen CBA Vanguard.

Ketidakefektifan dan Reaksi Balik

Bank awalnya berdalih chatbot mengurangi hingga 2.000 panggilan per minggu, namun ternyata volume panggilan meningkat dan layanan terganggu. Berdasarkan tekanan dari serikat Finance Sector Union (FSU) dan keputusan Dewan Perburuhan (Fair Work Commission), CBA membalikkan keputusan dan menawarkan karyawan untuk kembali bekerja atau dipindahkan.

Dampak Sosial dan Perdebatan Publik

Kebijakan tersebut memicu debat nasional: adakah regulasi yang membatasi pemecatan massal karena teknologi? Para pemimpin serikat dan pemerintah menyerukan agar AI digunakan untuk memperkuat, bukan menggantikan, tenaga kerja manusia. Mereka juga menekankan pentingnya pelatihan ulang dan perlindungan sosial bagi pekerja terdampak.

Tren yang Lebih Luas dalam Industri Perbankan

Fenomena serupa juga terjadi di Bank of Queensland (BOQ), yang memecat sekitar 200 pekerja melalui kemitraan dengan Capgemini—dituduh sebagai langkah untuk menggantikan tenaga kerja dengan teknologi AI dan outsourcing.

Kesimpulan

Peristiwa ini menjadi peringatan nyata tentang risiko otomatisasi tanpa perencanaan matang. Kejadian di CBA memperlihatkan bahwa meski AI menawarkan efisiensi, teknologi belum sepenuhnya siap menggantikan peran manusia, terutama dalam konteks empati, kompleksitas pertanyaan, dan hubungan personal. Transisi yang adil melalui regulasi, pelatihan ulang, dan dialog pekerja, adalah kunci agar AI menjadi mitra bukan ancaman.

Komentar